Perjalanan panjang selalu disajikan.
Kehidupan tak selalu berdasar atas kasih sayang.
Kehidupan berjalan dengan benci dan kebohongan.
Semua tak ada yang selalu benar-benar, benar.
Yang ada tinggallah kebencian dan dendam jiwa.
Berjalan dengan menundukkan kepala.
Tak seharusnya berjalan dengan kepala.
Karena hidup tak selalu sesuai isi kepala.
————————
Penggalan kalimat yang tak berkesesuaian dengan tulisan utama. Jiah ? itu adalah sebuah ketidakfokusan atas diri sendiri. Celoteh selftalk. Dengan bangganya saya berbicara pada diri sendiri. Saya memang tidak fokus, sulit untuk fokus, karena saya tahu kehidupan itu membutuhkan ketidakfokusan agar tahu bahwa dunia ini tercipta pada Dzat yang fokus. Keterfokusanku akan membimbingku pada kesulitan cara berfikir dan akan menciptakan keterbatasan kemampuan berfikir. Karena berfikir tidak fokus itu lebih sulit daripada berfikir fokus. Ketidakfokusan membutuhkan variasi berfikir. Kefokusan membutuhkan ketekunan berfikir.
———————-
Pertanyaan datang lagi. Yah, saya sangat senang sekali. dibalik kegiatan baru saya yang membuat saya tertantang, masih ada tantangan yang datang. Pertanyaan. Sepertinya saya memang harus sering mendapatkan pertanyaan. Bukan tentang pengetahuan yang tertata di buku, tetapi pertanyaan yang bersinggungan dengan hidup. Hidup saya tidak sama dengan anda. Dan saya juga tidak berhadap anda menyamakan kehidupan anda dengan saya. Karena hidup itu berbeda. Bukan tentang benda-benda yang ada, tetapi semua jenis benda yang telah tercipta.
Apa itu kepintaran ? Apa itu keberuntungan ?
Sebelum menjawab ini. Saya akan berusaha menebak kenapa anda bertanya tentang itu. Tentang keberuntungan dan kepintaran.
Dua tahun lalu, teman saya bertanya sesuatu tentang keberuntungan dan kepintaran. Dia bertanya :
Memei : Yai, mana yang kamu pilih antara keberuntungan dan kepintaran ?
(Di dalam hati saya tertawa kecil), kenapa ?
Saya membayangkan bahwa orang yang sedang bertanya tentang hal ini sebenarnya sedang iri dengan sesuatu yang diperoleh orang lain. Sesuatu yang dia harapkan tak sesuai dengan yang dia rencanakan.
Rencana. Sesuatu yang membutuhkan persiapan. pikiran, tenaga, dan semua kemampuan yang dimiliki. Kemampuan yang tak hanya tampak secara fisik, tetapi segala kemampuan yang ada dalam diri atau bisa juga kemampuan yang dapat digapai oleh diri. Rencana. Bukan selalu yang dapat kau akhiri dengan pasti, karena rencana adalah sebuah usaha diri. Usaha untuk menunjukkan dan mempergunakan kemampuan diri. Sebuah kemampuan itu harus dilatih dan ditempa dalam kehidupan ini. Karena kemampuan diri-lah yang kita miliki untuk menghadapi dunia ini. Dunia yang tak menyajikan kursi sofa empuk untuk kita diami, tetapi lantai keras berbatu yang harus juga kita hadapi. Maka, berjalanlah dengan Kemampuan diri.
Kemampuan diri. Apa ini ?
Suatu rahasia dalam diri. Rahasia yang tak pernah saya ketahui. Kecuali saya mau mulai membuka diri, memberanikan diri, tak peduli, dan jangan diakhiri dengan iri-kebencian hati. Berusaha mengerti dan kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
“Dia dilahirkan dengan keberuntungan. Saya beruntung telah dilahirkan………..
Saya, tak butuh keberuntungan itu !!! . Karena saya bisa menghadapi semua ini tanpa keberuntungan, tetapi dengan diri saya sendiri” Suko. @Avatar
Apa yang terpikir dengan ucapan itu ?
Sebuah keberuntungan adalah pemberian.
Pemberian yang tidak selamanya akan menghinggapi. Karena yang selalu menghinggapi adalah kemampuan diri. bukan keberuntungan diri.
Celotehan kecil dalam diri :
Saya : Kata siapa keberuntungan tidak selalu menghinggapi ? Itu buktinya dia selalu beruntung. Dia melakukan itu saja bisa memperoleh hasil yang lebih daripada saya yang mati-matian mengeluarkan kemampuan diri.
Aku : Hai saya, kamu sedang iri dengan dia ?
Saya : Enggak.
Aku : Kalau begitu kenapa kamu tadi memasukkan kata dia dalam ucapanmu ? Kamu menarik dia dalam kehidupanmu. Kamu berusaha memasukkan dia dalam hasil yang ada dalam kehidupanmu ?
Saya : Namaya manusia kan ingin menjadi lebih baik.
Aku : Lebih baik dengan merendahkan usahamu dan mengagungkan hasilnya ? Itulah usahamu ? Dengan menjatuhkanmu dan mengagungkan hasil dia ! Dimana hasilmu, saya ? tertutup oleh ketidakmampuan matamu ? Apa tertutup oleh hatimu yang belum menerima hasilmu ?
Saya : Hasilnya dia lebih baik dari saya, aku !! Kamu gak ngerti apa ? Dia lebih baik dari saya. Dan saya lebih buruk dari dia.
Aku : Hai saya !! Dimana kamu ?
Saya : Aku sekarang disini, Kamu gak liat apa ?
Aku : Mana ?
Saya : Ini disini. Di dekat kamu.
Aku : Tidak ada.
Saya : trus yang kamu lihat apa ?
Aku : Yang aku lihat hanya dia yang kamu akui dan paksakan menjadi dirimu. Kamu, bukan memulai menerima dirimu, menunjukkan dirimu, dan berjuang bersama dirimu. Tetapi menarik dia yang bukan apa-apamu untuk menjadi dirimu. Itu yang membuat dirimu iri. Tidak sampai pada tahap pembelajar diri untuk dirimu.
———
Dan saya jawab pertanyaan dari memei :
Saya memilih kepintaran, karena dengan kepintaran saya berusaha. berusaha menjadi diri saya. berusaha tidak selalu menerima sebelum berusaha. Karena diri saya punya kemampuan. Bukan tidak punya kemampuan. Saya punya kemampuan maka saya berusaha.